Senin, 16 Desember 2013

Resensi Mimpi-mimpi Lintang






Nama              : Irpan Istian
Nim                 : 1214015034
Jurusan           : Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu Budaya)
Mata Kuliah   : Pengkajian Cerita Reka`an Indonesia



Ø  Lintang, Mimpi, dan Perahu Besar
Ringkasan cerita Novel Mimpi-mimpi Lintang Maryamah karpov.
Ikal sudah siap pergi kembali ke tanah kelahirannya. Ia sungguh masih tak percaya bisa menyelesaikan tesisnya di universitas tersohor itu. Kebanggaan bersama Arai; saudara jauhnya, dan buku dari A ling yang menyemangatinya. Lepas dari beban ruang sidang itu ia berpamitan dengan seluruh kawan seangkatannya. Berbagai undangan perpisahan ia dapatkan dari berbagai mahasiswa asal negara lain dengan perayaan sesuai budaya masing-masing. Mahasiswa indonesia sendiri merayakan perpisahan dengan ceramah dan tausyiah sengaja didatangkan dari KBRI.
Arai yang baru sembuh dari sakit dan cuti kuliah untuk berobat jalan mempunyai rencana untuk menyambutnya. Arai memang penuh ide gila. Ketua karmun dan warga siap menyambut anak belitong ini.
Dunia ternyata hanya sebentar baru saja kemarin kehilangan Lintang sahabatnya; lalu melanglang dengan beasiswa ke perancis dan kembali terlantar di tanah kelahirannya; di pulau kecil belitong asli. Tak ada pekerjaan yang sesuai dengan gelar sarjananya. Sungguh menjadi pengangguran terpelajar sangat riskan akan gosipan orang. Apalagi ibu yang meragukan izajahnya; buat apa izajah itu? Tapi berbeda dengan ayah yang setiap senyumnya menyuratkan berbagai kata dan cerita. Ayah memang tidak pernah banyak berkata dan ikal sudah paham bagaimana bahasa senyumnya.
Terkenang bagaimana pahitnya seorang ayah yang tak pernah naik pangkat hanya karena tak punya izajah. Ikal ikut bersedih dengan apa yang diatur hukum manusia. Meski ayahnya tak menampakan kekecewaanya. Tapi ikal berjanji akan memberantas kejadian ini. Salah satunya dengan melanjutkan sekolah setinggi mungkin.
Ayah yang senang buah hatinya kembali ke pangkuan; mulai merencanakan jalan-jalan yang selalu dijanjikannya. Mengajak menonton bioskop dan membeli sate tebu. Ikal senang bisa digonceng ayahnya dengan sepeda meski ia bukan anak kecil lagi sebagaimana sangka ayahnya. Ia sudah dewasa. Tapi apalah watak orang tua yang masih menganggap buah hatinya selalu kecil dan tak ada kata dewasa di kamusnya. Ikal tetap anak semata wayangnya yang menggemaskan.
Arai saudara jauhnya kembali bertemu dengan pujaan hatinya sewaktu SMA. Zakiya Nurmala gadis pemarah dan cantik yang sudah berpuluh-puluh kali menolaknya. Dasar Arai yang setia pada satu pasangan maka tak jera juga sehingga lumpuhlah hati Zakiya Nurmala. Kesempatan beasiswa dari perancis kembali datang padanya disaat Zakiya hampir ditangannya. Ia bingung menetapkan yang mana. Melepas kesempatan beasiswa atau melepas zakiya.
Akhirnya keputusan datang dengan bantuan saudara jauhnya; tak lain Ikal. Ayah ikal yang juga Ayah bagi Arai merestui pernikahan Arai dan gadis pujaannya itu. Hingga ia melangsungkan pernikahan dan memboyong sang pengantin ke perancis.
Melepas Arai sungguh berat jika dibuat.Tapi demi kebahagiaannya maka keluarga Ikal melepaskannya juga. Sekarang giliran ikal yang harus menanggung derita. Tak ada Arai tak seru katanya.
Mulai dari masalah sulitnya dapat kerja ditambah sulitnya mencari keberadaan Aling. Hingga warga menemukan mayat wanita bertato kupu-kupu ditangannya mirip seperti budaya keluarga Aling. Jangan-jangan ini pertanda akan ditemukannya Aling.
Ia mulai gila mencari jalan keluar; satu-satunya cara adalah menyeberang ke pulau batuan. Dimana perjalanan menuju kearahnya sangatlah berbahaya. Dari mulai kawanan bajak laut hingga ombak yang ganas merenggut maut.
Jalan masih belum terang. Ia harus membuat perahu! Orang-orang yang suka duduk-duduk di warung kopi menganggapnya sudah gila karena cinta. Mereka bertaruh jika ikal tak dapat membuat perahu. Ikal panas mendengar hujatan dan cemoohan warga.
Maka tibalah laskar pelangi versi dewasa datang bak dewa penyelamat. Maka dibantulah ikal membuat sebuah perahu asteroid. Dengan bantuan lintang sebagai tekniksi dan mahar sebagi petunjuk jalan. maka mereka dengan ide gila membangunkan kembali kapal tua yang mati di dasar sungai. Suaranya seperti paus yang bangun. Warga masih tak percaya mereka bisa membangunkan raksasa zaman plestoisen itu.
Kayu dari kapal yang telah tenggelam itu dipakai untuk membuat perahu dan jadilah perahu yang dinamai Mimpi-mimpi Lintang. Meski awalnya ragu tapi ternyata terwujud juga. Semua karena kerja keras dan kerja bersama kawan sekelas.
Perjalanan mencari Aling lautan lepas sungguh mendebarkan. Kawan Pirates of caribian segera mereka hadirkan sebagai bumbu petualang. Soal pertualangan Mahar jagonya. Dia mampu berkomunikasi dengan Tuk Bayan Tula dan akhirnya bertemulah ikal dengan Aling dipulau terpencil.


Judul
Penulis
Penerbit
Kota tempat terbit
Tahun terbit
Tebal halaman
: Mimpi-Mimpi Lintang
: Andrea Hirata
: Bentang Anggota IKAPI (PT. Bentang Pustaka)
: Jln. Pandega Padma 19, Yogyakarta
: 2008
: 504 Halaman
      1.Tema
                 Pengorbanan cinta seseorang kepada orang-orang yang ia sayangi, termasuk sang dambaan hatinya.
      2. Penokohan
Ø  Ikal                          : Selalu ingin tahu
Ø  Bukti                       : ”aku penasaran ingin tahu”, ucapnya. {halaman 151}

Ø  Ayah                                   : Berbesar hati
Ø  Bukti                                   : Namun tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Sejurus kemudian ia berjalan menuju kawan-kawannya. Ayah menyalami mereka satu per satu untuk mengucapkan selamat. {halaman 11}

Ø  Ibu                                        : Sabar
Ø  Bukti                         : Menunduk, tekun, tak banyak cincong. {halaman 14}

Ø  Arai                                      : Penakut
Ø  Bukti                         : Rasanya ingin aku terkencing-kencing. Aku dan Arai tak berani mendekat. {halaman 159}                                     

Ø  Lintang                                 : Pintar
Ø  Bukti                                     : Aku merinding mendengarnya. Betapa spektakuler  ide ini. {halaman 330}

Ø  A Ling                      : Cantik
Ø  Bukti                         : Namun, jika cantik A Ling contonya tatapannya mampu mencairkan tembaga. {halaman 131}

Ø  Mahar                       : Tidak putus asa
Ø  Bukti                         : Akhirnya, Mahar tanpa putus asa hanya tinggal satu harapan lagi yaitu bungkusan yang selalu dibawanya kemana-mana. {halaman 407}

Ø  Kalimut                     : Gigih
Ø  Bukti                         : Sekecil itu ia telah mencari nafkah. {halaman 364}

Ø  Tuk Bayan Tula        : Sombong
Ø  Bukti                         : Tidak mau memalingkan wajah. {halaman 406}
3. Alur
Ø  Campuran.
Ø  Bukti          : “sungguh menyedihkan keadaan sekolah kami sekarang. Dulu ia dikucilkan zaman, sekarang ia masih senyam sendirian. Kami tertegun bergandengan tangan. Tak seorang pun bicara karena kami terlena mendengar suara Bu Muslimah dari dalam kelas itu, gelak tawa, sedang tangis,bait-bait puisi, dan dialog sandiwara kami dulu. Lalu mengalun suara kecil Lintang menyanyikan lagu Padamu Negeri, hanya untuk menyanyikan satu lagu itu saja ia dengan gagah berani mengayuh sepeda empat puluh kilometer. Dari rumahnya di pinggir laut: Di kelas itu, meski suaranya sumbang, ia bersenandung sepenuh jiwa.”
 


4. Latar/setting
Ø  Latar Waktu
Ø  Pada novel “Maryamah Karpov” penulis menceritakan semua kejadian yang dialami penulis ketika berumur  24 tahun. Dimana ketika penulis sudah selesai menempuh mata kuliahnya di salah satu Unversitas bagus di Paris. Di dalam cerita di ceritakan kemudian hari-harinya dijalani penulis di tanah Indonesia yakni di Belitong hingga berumur  25 tahun.

Ø  Latar Tempat  
Ø   Setting tempat pada novel ini adalah rumah Ikal, rumah Zakiah, Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, Sungai Linggang, dermaga, Pulau Batuan, Pasar Ikan, Sekolah Dasar Laskar Pelangi, Toko Harapan Bangsa, rumah Puniai, dan lain sebagainya.
Ø  Latar Suasana
Ø  Latar suasana yang ada dalam novel ini beragam dikarenakan konflik-konfik yang muncul juga beragam. Ada kalanya senang, sedih, hingga cemas. Berikut ada penggalan kisah yang menjelaskan suasana dalam novel :

Ø   Suasana senang
Ø  “Ikal dapat menemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya”
Ø    Suasana sedih
Ø  “Tapi sayangnya, ayah Ikal tidak menyetujui anak bujangnya meminang A Ling”.

5. Sinopsis
              “Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi – tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: Sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari mulai pukul delapan pagi sampai magrib. Menggantikan tugas ayahku yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! aku menolak perlakuan buruk nasib kepadaku ayahku dan kepada kaumku. Kini telah tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.”
Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apapun ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda – tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali?
6. Konflik
Ø  Eksposisi (Pendahuluan) :
 ketika sang penulis merindukan seseorang yang ia sayangi.
 Bukti:
“Sesuatu kembali menyesaki dadaku. Aku ingin mengayuh  sepeda kencang-kencang melewati toko itu, tetapi aku tak mampu beranjak. Hatiku terendam air mata rindu,sungguh rindu, sampai rasanya aku membeku. Kemana lagi aku harus mencari A Ling? Semua tempat telah kutempuh, semua orang telah kutanya, tak ada kabar beritanya, tak tahu rimbanya.” (halaman 195)
                  
Ø  Komplikasi (permasalahan) :
Ketika sang penulis di anggap sakit jiwa.
Bukti:
“Pisang-pisang kipas bernyawa, tiang-tiang bendera bertelinga. Tak tahu dari siapa, berita aku akan membuat perahu menyebar kemana-mana, dan aku dituduh sakit jiwa. Sampai-sampai aku tak berani melintas di pasar karena tak tahan berhari-hari dicela.” (halaman 237)
Ø  Tahap peningkatan konflik :
“Dengan aba-aba dari Lintang, pompa dihidupkan. Percobaan pertama, dan ternyata gagal. Sebab, ternyata sangat susah menggosongkan drum secara simultan. Empat drum melonjak ke permukaan, jelas tak mampu menggerakkan perhu sedikitpun. Perahu itu sangat berat seperti sebuah panser yang terbenam. Eksyen dan komplotannya berteriak-teriak girang melihat kami gagal.”
Ø  Klimaks (puncak permasalahan) :
“Sementara perahu-perahu anak buah Tambok makin dekat. Lalu kudengar letupan-letupan senapan. Merekan menembaki perahu kami dengan senapan rakitan. Mahar menaikkan layar dan aku memutar haluan. Tujuan kami adalah timur dan angin barat serta merta mendorong kami.


Ø  Resolusi/penyesaian :
“Di tengah hamparan ilalang, A Ling berdiri sendirian menunggu. Kami hanya diam, tapi A ling tahu apa yang telah terjadi. Ia terpaku lalu luruh. Ia bersimpuh dan memeluk lututnya. Matanya semerah naga. Ia sensenggukan sambil meremas ilalang tajam. Seakan tak ia rasakan darah menguncur di telapaknya. Ia menarik putus kalungnya, menggulungkan lengan bajunya, dan memperlihatkan rajah kupu-kupu hitam di bawah sinar bulan. Ku katakan padanya bahwa aku tak’kan menyerah pada apapun untuknya dan akan ada lagi perahu berangkat ke Batuan. Ku katakan padanya, aku akan membawanya naik perahu itu dan kami akan melintasi Selat Singapura.

7. Sudut pandang
Penulis novel maryamah karpov ini dengan gaya pengarang sebagai pelaku utama, sehingga dalam cerita tertera kata “Aku” dan juga penulis sering mengungkapkan apa yang dirasakan maupun yang dipikirnya dalam untaian kata yang indah.
8. Amanat

Kita sepatutnya memperjuangkan cinta demi kebahagiaan hidup ini, walaupun cara untuk
memperjuangkan cinta itu penuh dengan pengorbanan.
Sebaiknya masyarakat Indonesia harus mulai bisa menumpas ketelatan dalam segala bidang, karena jika tidak maka bisa saja merugikan diri sendiri.
Sebaiknya pemerintah tidak sibuk dengan kesenangannya sendiri, sehingga nantinya masyarakat kecil bisa sedikit tak terabaikan.
Kegagalan adalah sukses yang tertunda.
Siapa yang menabur senyum , dialah yang akan menuai cinta.
Menurut ketentuan agama, tak boleh mendiamkan orang tua, bertanya lebih dari tiga kali.
Ø  Jangan pernah mengalah dengan nasib, semangat dan ilmu dapat menaklukkan apapun.