Nama : Irpan Istian
Nim : 1214015034
Jurusan : Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu
Budaya)
Mata Kuliah : Pengkajian Cerita Reka`an Indonesia
Ø
Lintang, Mimpi, dan Perahu Besar
Ringkasan
cerita Novel Mimpi-mimpi Lintang Maryamah karpov.
Ikal sudah
siap pergi kembali ke tanah kelahirannya. Ia sungguh masih tak percaya bisa
menyelesaikan tesisnya di universitas tersohor itu. Kebanggaan bersama Arai;
saudara jauhnya, dan buku dari A ling yang menyemangatinya. Lepas dari beban
ruang sidang itu ia berpamitan dengan seluruh kawan seangkatannya. Berbagai
undangan perpisahan ia dapatkan dari berbagai mahasiswa asal negara lain dengan
perayaan sesuai budaya masing-masing. Mahasiswa indonesia sendiri merayakan
perpisahan dengan ceramah dan tausyiah sengaja didatangkan dari KBRI.
Arai yang baru sembuh dari sakit dan
cuti kuliah untuk berobat jalan mempunyai rencana untuk menyambutnya. Arai
memang penuh ide gila. Ketua karmun dan warga siap menyambut anak belitong ini.
Dunia
ternyata hanya sebentar baru saja kemarin kehilangan Lintang sahabatnya; lalu
melanglang dengan beasiswa ke perancis dan kembali terlantar di tanah
kelahirannya; di pulau kecil belitong asli. Tak ada pekerjaan yang sesuai
dengan gelar sarjananya. Sungguh menjadi pengangguran terpelajar sangat riskan
akan gosipan orang. Apalagi ibu yang meragukan izajahnya; buat apa izajah itu?
Tapi berbeda dengan ayah yang setiap senyumnya menyuratkan berbagai kata dan
cerita. Ayah memang tidak pernah banyak berkata dan ikal sudah paham bagaimana
bahasa senyumnya.
Terkenang
bagaimana pahitnya seorang ayah yang tak pernah naik pangkat hanya karena tak
punya izajah. Ikal ikut bersedih dengan apa yang diatur hukum manusia. Meski
ayahnya tak menampakan kekecewaanya. Tapi ikal berjanji akan memberantas
kejadian ini. Salah satunya dengan melanjutkan sekolah setinggi mungkin.
Ayah yang
senang buah hatinya kembali ke pangkuan; mulai merencanakan jalan-jalan yang
selalu dijanjikannya. Mengajak menonton bioskop dan membeli sate tebu. Ikal
senang bisa digonceng ayahnya dengan sepeda meski ia bukan anak kecil lagi
sebagaimana sangka ayahnya. Ia sudah dewasa. Tapi apalah watak orang tua yang
masih menganggap buah hatinya selalu kecil dan tak ada kata dewasa di kamusnya.
Ikal tetap anak semata wayangnya yang menggemaskan.
Arai saudara jauhnya kembali bertemu
dengan pujaan hatinya sewaktu SMA. Zakiya Nurmala gadis pemarah dan cantik yang
sudah berpuluh-puluh kali menolaknya. Dasar Arai yang setia pada satu pasangan
maka tak jera juga sehingga lumpuhlah hati Zakiya Nurmala. Kesempatan beasiswa
dari perancis kembali datang padanya disaat Zakiya hampir ditangannya. Ia
bingung menetapkan yang mana. Melepas kesempatan beasiswa atau melepas zakiya.
Akhirnya keputusan datang dengan
bantuan saudara jauhnya; tak lain Ikal. Ayah ikal yang juga Ayah bagi Arai
merestui pernikahan Arai dan gadis pujaannya itu. Hingga ia melangsungkan
pernikahan dan memboyong sang pengantin ke perancis.
Melepas Arai
sungguh berat jika dibuat.Tapi demi kebahagiaannya maka keluarga Ikal
melepaskannya juga. Sekarang giliran ikal yang harus menanggung derita. Tak ada
Arai tak seru katanya.
Mulai dari
masalah sulitnya dapat kerja ditambah sulitnya mencari keberadaan Aling. Hingga
warga menemukan mayat wanita bertato kupu-kupu ditangannya mirip seperti budaya
keluarga Aling. Jangan-jangan ini pertanda akan ditemukannya Aling.
Ia mulai
gila mencari jalan keluar; satu-satunya cara adalah menyeberang ke pulau
batuan. Dimana perjalanan menuju kearahnya sangatlah berbahaya. Dari mulai
kawanan bajak laut hingga ombak yang ganas merenggut maut.
Jalan
masih belum terang. Ia harus membuat perahu! Orang-orang yang suka duduk-duduk
di warung kopi menganggapnya sudah gila karena cinta. Mereka bertaruh jika ikal
tak dapat membuat perahu. Ikal panas mendengar hujatan dan cemoohan warga.
Maka
tibalah laskar pelangi versi dewasa datang bak dewa penyelamat. Maka dibantulah
ikal membuat sebuah perahu asteroid. Dengan bantuan lintang sebagai tekniksi
dan mahar sebagi petunjuk jalan. maka mereka dengan ide gila membangunkan
kembali kapal tua yang mati di dasar sungai. Suaranya seperti paus yang bangun.
Warga masih tak percaya mereka bisa membangunkan raksasa zaman plestoisen itu.
Kayu dari
kapal yang telah tenggelam itu dipakai untuk membuat perahu dan jadilah perahu
yang dinamai Mimpi-mimpi Lintang. Meski awalnya ragu tapi ternyata terwujud
juga. Semua karena kerja keras dan kerja bersama kawan sekelas.
Perjalanan mencari Aling lautan
lepas sungguh mendebarkan. Kawan Pirates of caribian segera mereka hadirkan sebagai
bumbu petualang. Soal pertualangan Mahar jagonya. Dia mampu berkomunikasi
dengan Tuk Bayan Tula dan akhirnya bertemulah ikal dengan Aling dipulau
terpencil.
|
Judul
Penulis
Penerbit
Kota tempat terbit
Tahun terbit
Tebal halaman
|
: Mimpi-Mimpi Lintang
: Andrea Hirata
: Bentang Anggota IKAPI (PT. Bentang
Pustaka)
: Jln. Pandega Padma 19,
Yogyakarta
: 2008
: 504 Halaman
|
1.Tema
Pengorbanan cinta seseorang
kepada orang-orang yang ia sayangi, termasuk sang dambaan hatinya.
2. Penokohan
Ø Ikal :
Selalu ingin tahu
Ø Bukti : ”aku penasaran ingin tahu”, ucapnya. {halaman
151}
Ø Ayah :
Berbesar hati
Ø
Bukti :
Namun tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Sejurus kemudian ia berjalan menuju kawan-kawannya.
Ayah menyalami mereka satu per satu untuk mengucapkan selamat. {halaman 11}
Ø
Ibu :
Sabar
Ø
Bukti : Menunduk, tekun, tak banyak cincong.
{halaman 14}
Ø Arai :
Penakut
Ø
Bukti
: Rasanya ingin aku terkencing-kencing.
Aku dan Arai tak berani mendekat. {halaman 159}
Ø Lintang : Pintar
Ø
Bukti :
Aku merinding mendengarnya. Betapa spektakuler ide ini. {halaman 330}
Ø A Ling :
Cantik
Ø
Bukti : Namun, jika cantik A Ling contonya tatapannya
mampu mencairkan tembaga. {halaman 131}
Ø Mahar : Tidak putus asa
Ø Bukti :
Akhirnya, Mahar tanpa putus asa hanya tinggal satu harapan lagi yaitu bungkusan
yang selalu dibawanya kemana-mana. {halaman
407}
Ø Kalimut :
Gigih
Ø Bukti
:
Sekecil itu ia telah mencari nafkah. {halaman
364}
Ø Tuk Bayan Tula :
Sombong
Ø Bukti : Tidak mau memalingkan wajah. {halaman 406}
3. Alur
Ø
Campuran.
Ø Bukti : “sungguh menyedihkan
keadaan sekolah kami sekarang. Dulu ia dikucilkan zaman, sekarang ia masih
senyam sendirian. Kami tertegun bergandengan tangan. Tak seorang pun bicara
karena kami terlena mendengar suara Bu Muslimah dari dalam kelas itu, gelak
tawa, sedang tangis,bait-bait puisi, dan dialog sandiwara kami dulu. Lalu
mengalun suara kecil Lintang menyanyikan lagu Padamu Negeri, hanya untuk
menyanyikan satu lagu itu saja ia dengan gagah berani mengayuh sepeda empat
puluh kilometer. Dari rumahnya di pinggir laut: Di kelas itu, meski suaranya
sumbang, ia bersenandung sepenuh jiwa.”
4. Latar/setting
Ø
Latar Waktu
Ø
Pada novel
“Maryamah Karpov” penulis menceritakan semua kejadian yang dialami penulis
ketika berumur 24 tahun. Dimana ketika
penulis sudah selesai menempuh mata kuliahnya di salah satu Unversitas bagus di
Paris. Di dalam cerita di ceritakan kemudian hari-harinya dijalani penulis di
tanah Indonesia yakni di Belitong hingga berumur 25 tahun.
Ø
Latar Tempat
Ø
Setting tempat pada novel ini adalah rumah
Ikal, rumah Zakiah, Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, Sungai Linggang, dermaga,
Pulau Batuan, Pasar Ikan, Sekolah Dasar Laskar Pelangi, Toko Harapan Bangsa,
rumah Puniai, dan lain sebagainya.
Ø
Latar Suasana
Ø
Latar
suasana yang ada dalam novel ini beragam dikarenakan konflik-konfik yang muncul
juga beragam. Ada kalanya senang, sedih, hingga cemas. Berikut ada penggalan
kisah yang menjelaskan suasana dalam novel :
Ø
Suasana senang
Ø
“Ikal dapat
menemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya”
Ø
Suasana sedih
Ø
“Tapi sayangnya,
ayah Ikal tidak menyetujui anak bujangnya meminang A Ling”.
5. Sinopsis
“Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk
sekolah setinggi – tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku
dengan terang sore ini: Sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal yang kelihatan
hanya mataku, memegang sekop gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela
tenaga, mencedokinya dari mulai pukul delapan pagi sampai magrib. Menggantikan
tugas ayahku yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! aku
menolak perlakuan buruk nasib kepadaku ayahku dan kepada kaumku. Kini telah
tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku,
kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki
bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.”
Keberanian
dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa.
Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apapun ikal lakukan
demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A
Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda – tanda itu masih samar. Dapatkah
keduanya bertemu kembali?
6. Konflik
Ø
Eksposisi
(Pendahuluan) :
ketika sang penulis merindukan
seseorang yang ia sayangi.
Bukti:
“Sesuatu kembali menyesaki dadaku. Aku ingin mengayuh sepeda kencang-kencang melewati toko itu, tetapi aku tak mampu beranjak. Hatiku terendam air mata rindu,sungguh rindu, sampai rasanya aku membeku. Kemana lagi aku harus mencari A Ling? Semua tempat telah kutempuh, semua orang telah kutanya, tak ada kabar beritanya, tak tahu rimbanya.” (halaman 195)
“Sesuatu kembali menyesaki dadaku. Aku ingin mengayuh sepeda kencang-kencang melewati toko itu, tetapi aku tak mampu beranjak. Hatiku terendam air mata rindu,sungguh rindu, sampai rasanya aku membeku. Kemana lagi aku harus mencari A Ling? Semua tempat telah kutempuh, semua orang telah kutanya, tak ada kabar beritanya, tak tahu rimbanya.” (halaman 195)
Ø
Komplikasi (permasalahan)
:
Ketika sang penulis di anggap sakit
jiwa.
Bukti:
“Pisang-pisang kipas bernyawa,
tiang-tiang bendera bertelinga. Tak tahu dari siapa, berita aku akan membuat
perahu menyebar kemana-mana, dan aku dituduh sakit jiwa. Sampai-sampai aku tak
berani melintas di pasar karena tak tahan berhari-hari dicela.” (halaman 237)
Ø
Tahap peningkatan
konflik :
“Dengan aba-aba dari Lintang, pompa
dihidupkan. Percobaan pertama, dan ternyata gagal. Sebab, ternyata sangat susah
menggosongkan drum secara simultan. Empat drum melonjak ke permukaan, jelas tak
mampu menggerakkan perhu sedikitpun. Perahu itu sangat berat seperti sebuah
panser yang terbenam. Eksyen dan komplotannya berteriak-teriak girang melihat
kami gagal.”
Ø
Klimaks (puncak
permasalahan) :
“Sementara perahu-perahu anak buah
Tambok makin dekat. Lalu kudengar letupan-letupan senapan. Merekan menembaki
perahu kami dengan senapan rakitan. Mahar menaikkan layar dan aku memutar
haluan. Tujuan kami adalah timur dan angin barat serta merta mendorong kami.
Ø
Resolusi/penyesaian
:
“Di tengah hamparan ilalang, A Ling
berdiri sendirian menunggu. Kami hanya diam, tapi A ling tahu apa yang telah
terjadi. Ia terpaku lalu luruh. Ia bersimpuh dan memeluk lututnya. Matanya
semerah naga. Ia sensenggukan sambil meremas ilalang tajam. Seakan tak ia
rasakan darah menguncur di telapaknya. Ia menarik putus kalungnya,
menggulungkan lengan bajunya, dan memperlihatkan rajah kupu-kupu hitam di bawah
sinar bulan. Ku katakan padanya bahwa aku tak’kan menyerah pada apapun untuknya
dan akan ada lagi perahu berangkat ke Batuan. Ku katakan padanya, aku akan
membawanya naik perahu itu dan kami akan melintasi Selat Singapura.
7. Sudut
pandang
Penulis novel maryamah karpov
ini dengan gaya pengarang sebagai pelaku utama, sehingga dalam cerita tertera
kata “Aku” dan juga penulis sering mengungkapkan apa yang dirasakan maupun yang
dipikirnya dalam untaian kata yang indah.
8. Amanat
Kita sepatutnya memperjuangkan cinta demi kebahagiaan hidup ini, walaupun cara untuk
memperjuangkan cinta itu penuh dengan pengorbanan.
Sebaiknya masyarakat Indonesia harus mulai bisa menumpas ketelatan
dalam segala bidang, karena jika tidak maka bisa saja merugikan diri sendiri.
Sebaiknya pemerintah tidak sibuk dengan kesenangannya sendiri,
sehingga nantinya masyarakat kecil bisa sedikit tak terabaikan.
Kegagalan adalah sukses yang tertunda.
Siapa yang menabur senyum , dialah yang akan menuai cinta.
Menurut ketentuan agama, tak boleh mendiamkan orang tua, bertanya
lebih dari tiga kali.
Ø Jangan pernah mengalah dengan
nasib, semangat dan ilmu dapat menaklukkan apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar